Rabu, 25 Mei 2016

Saat Minoritas di Tertawakan

Surabaya, 26 Mei 2016

Kemarin saya mengunjungi salah satu Mall terkemuka di Surabaya, Tunjungan Plaza. Mall terkemuka? Pastilah ya barang-barang sangat bermerk ada di sana dan ya pengunjung juga tidak kalah hitz dengan penampilan mereka yang trendi. Apalah daya saya, memakai salah satu pakaian terbaik tetap tidak bisa mengalahkan penampilan pengunjung di sana. Tampang saya juga pas-pasan. Berbeda dengan mereka, wajah oriental maupun blasteran arab, india, dan bule. Mengingatkan saya pada saingan ajang cak dan ning. Kalau kata salah satu saudara, wajah orang asli Surabaya “sengak-sengak”.

Meski tujuan saya ke sana bukan untuk hangout, sekedar mengantar saudara membeli make up untuk wisuda, pakaian tetap harus dikondisikan. Siapa sih yang mau dinilai kampungan? Saya memang tidak pede di sana karna dompet saya tipis. Paling tidak suka juga hanya jalan-jalan tapi gak beli. SPG pasti ngedumel, hmm… hal itu pernah terjadi dan rasanya saya ingin borong banyak barang biar diam tuh SPG.

Sampai di Strowberry, memilih make up dan akhirnya antri di kasir, pegawai di sana mulai berulah. Mereka mengomentari sekelompok customer yang menggunakan bahasa cina saat mengobrol. Apa sih yang salah? padahal mereka pembeli yang nguntungin dan gak pernah usik mereka.

Salah satu dari mereka antri di kasir. Mulai tuh mereka beraksi. Menertawakan dari sorot mata satu sama lain . melihat si Mbak Cina dari atas ke bawah. Setelah Mbak-mbak cina pergi, ya mereka terang-terangan sampai dilihat pengunjung dan beberapa dari mereka ikut tersenyum.

Saya paling tidak suka sama orang-orang seperti ini. Menertawakan kaum minoritas. Sama saja dengan orang-orang cina di Surabaya akan menertawakan orang-orang seperti saya saat berada di daerah kekuasaan mereka. Padahal apa salah saya? Tidak ada. Kenapa orang-orang selalu memukul ratakan penilaian seseorang hanya karna mereka adalah bagian kecil dari kelompok besar, ayolah tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Beginilah dunia, tidak adil. Hidup tenang susah, pasti selalu ada yang mengusik.

Selasa, 24 Mei 2016

Tangis Hari Ini

Surabaya, 24 Mei 2016
4:15 PM

Saya menangis lagi. Dalam keadaan tangan menekan tombol keyboard laptop, menyalin tulisan yang ada di buku. Skripsiku tetap jalan, kali ini dengan tangisan. Bukan hanya karena susahnya skripsi, tetapi banyak hal, yang telah berlalu dan luka masih terasa.

Saya seperti orang bodoh karena putus cinta. Luka karena kebohongan dan harapan yang besar akan bersama cinta lawan jenis selamanya. Sekarang? Dia pergi dengan perlakuan yang kejam. Sakit.
Saya juga merindukan mama. Iri melihat teman memiliki keluarga yang selalu menyemangati. Rindu yang menyesakan. Rindu suasana kamar yang selalu ada beliau. Suara berisik dari dapur saat memasak. Lidah ini sudah membatu menyebut kata mama yang tidak pernah terucap lagi. Rasa makanan rumahan buatannya, saya benar-benar sempurna melupakan.

Sendirian, teman sibuk dengan urusan masing-masing. Bahagia dengan belahan jiwa. Sementara saya terpuruk di dalam rumah bersama kesedihan. Ya, saya tidak memiliki banyak teman. Susah bergaul.
Hari ini hati perih. Luka lama menganga. Sendiri. Bukankah saya punya Tuhan? Tapi saya malah menjauh menjadi brengsek. Entah kenapa saya begini.


Selain menangis apa lagi? Lelah. Saya ingin baring di atas kasur, menatap wajah mama dan bercerita banyak hal. Apa yang akan dia katakan?

Sabtu, 21 Mei 2016

Warung Bakso dan Kuli Bangunan

Surabaya, 20 Mei 2016

Saya suka sekali hari Jumat. Hari itu saya menemani sabahat saya, Lala, ke Gramedia Expo untuk meletakkan surat lamaran kerja. Ya, bulan maret 2016 dia lebih dulu lulus dibanding saya dan sampai hari ini disibukkan melamar kerja dimana-mana.

Namun, sebelumnya kami singgah untuk makan di warung bakso yang berada di Jl. Kaca Piring, Surabaya. Saya lupa nama warungnya. Ini kedua kalinya makan di sana. Pertama kali diajak oleh sepupu saya, Dini. Karena warung tersebut di sebelah tempat LES dia, SSC Surabaya. Dekat sekali dengan “Mie Kober” yang terkenal dengan Mie Iblisnya, tepatnya di seberang jalan.

Jauh-jauh dari kampus yang terletak di Jl. A. Yani ke Jl. Kaca Piring hanya untuk makan siang, pasti ada sesuatu yang special. Yup, karena harganya murah banget dan bikin kenyang. Maklumlah namanya juga mahasiswi yang masih belum memiliki kebebasan finansial dan warung bakso tersebut dekat dengan SSC yang mayoritas adalah pelajar, jadi wajar harganya murah banget. Pentol Rp 1.000 /biji dan yang lainnya dengan harga Rp 500 /biji, seperti gorengan, tahu, dan siomay. Untuk rasa tidak mengecewakan, yang saya sukai adalah gorengan panjang.

Di sini, jangan harap sang Ibu (tukang bakso) akan melayani pelanggannya, tetapi pelanggan melayani sendiri, bisa disebut prasmanan. Mungkin karena pembeli yang banyak. Begitu datang, saya mengambil mangkok dan mengambil sendiri pentol beserta teman-temannya. Hanya baksonya saja, untuk minuman sang Ibu yang membuat. Minumannya juga murah, es jeruk Rp 2.000 dan tidak abal-abal. Biasanya harga rata-rata es jeruk Rp 3.000, itu pun ada yang abal-abal tidak terasa jeruknya, cuma air gula.

Saya memilih duduk di depan gerobak, dengan pemandangan sang Ibu yang sibuk membuat minuman. Beberapa menit kemudian, ada seorang bapak yang sepertinya salah satu kuli bangunan di depan warung, ia menghampiri sang Ibu. “Buk, kulo bakso setunggal. Kulo bayar binjing mawon nggeh Buk (Buk, saya bakso satu. Saya bayar besok ya Buk)

Tanpa sengaja saya mendengar pembicaraan mereka. Sang Ibu langsung mengiyakan. Tetapi yang mengambil bakso bukan kuli bangunan itu sendiri, tetapi Ibu tersebut. “petang ewu mawon buk, koyo biasane (empat ribu saja buk, seperti biasanya)

Saya jadi teringat Ayah saya yang hanya seorang supir dan harus mengutang sana-sini untuk biaya kuliah dan keperluan sehari-hari. Saat itu juga saya melihat perjuangan Lala mencari kerja, betapa susahnya ditolak oleh banyak perusahaan.

Saya juga kembali teringat waktu harus menahan lapar karena tidak ada uang ataupun makanan di rumah. Saya juga ingat bagaimana alm. Ibu saya menjual satu persatu perhiasannya untuk membeli seragam sekolah dulu. Sedangkan saya sekarang banyak mengeluh mengerjakan skripsi. Rasanya tidak pantas melakukan hal itu.

Suatu keberuntungan bisa melihat peristiwa itu. Saya berharap ketika malas melanda, semangat menyusut bisa melihat peristiwa yang membangkitkan semangat dan menyadarkan bahwa di dunia ini harus berjuang.

Bulan Oktober 2016 ini saya harus wisuda. Saya harus lari, nekad, gasrak semuanya untuk bisa menyelesaikan skripsi.

Allah, dan Ayah… Trimakasih banyak, untuk semua kesempatan ini.