Surabaya, 26 Mei 2016
Kemarin saya mengunjungi salah satu
Mall terkemuka di Surabaya, Tunjungan Plaza. Mall terkemuka? Pastilah ya
barang-barang sangat bermerk ada di sana dan ya pengunjung juga tidak kalah hitz
dengan penampilan mereka yang trendi. Apalah daya saya, memakai salah satu
pakaian terbaik tetap tidak bisa mengalahkan penampilan pengunjung di sana. Tampang
saya juga pas-pasan. Berbeda dengan mereka, wajah oriental maupun blasteran
arab, india, dan bule. Mengingatkan saya pada saingan ajang cak dan
ning. Kalau kata salah satu saudara, wajah orang asli Surabaya “sengak-sengak”.
Meski tujuan saya ke sana bukan untuk hangout,
sekedar mengantar saudara membeli make up untuk wisuda, pakaian tetap harus
dikondisikan. Siapa sih yang mau dinilai kampungan? Saya memang tidak pede
di sana karna dompet saya tipis. Paling tidak suka juga hanya jalan-jalan tapi gak
beli. SPG pasti ngedumel, hmm… hal itu pernah terjadi dan rasanya
saya ingin borong banyak barang biar diam tuh SPG.
Sampai di Strowberry, memilih make up
dan akhirnya antri di kasir, pegawai di sana mulai berulah. Mereka mengomentari
sekelompok customer yang menggunakan bahasa cina saat mengobrol. Apa sih yang
salah? padahal mereka pembeli yang nguntungin dan gak pernah usik
mereka.
Salah satu dari mereka antri di kasir.
Mulai tuh mereka beraksi. Menertawakan dari sorot mata satu sama lain .
melihat si Mbak Cina dari atas ke bawah. Setelah Mbak-mbak cina
pergi, ya mereka terang-terangan sampai dilihat pengunjung dan beberapa dari
mereka ikut tersenyum.
Beginilah dunia, tidak adil. Hidup tenang susah, pasti selalu ada yang mengusik.