Surabaya, 24 Mei 2016
4:15 PM
Saya menangis lagi. Dalam keadaan
tangan menekan tombol keyboard laptop, menyalin tulisan yang ada di buku. Skripsiku
tetap jalan, kali ini dengan tangisan. Bukan hanya karena susahnya skripsi, tetapi banyak hal, yang telah berlalu dan luka masih
terasa.
Saya seperti orang bodoh karena putus
cinta. Luka karena kebohongan dan harapan yang besar akan bersama cinta lawan
jenis selamanya. Sekarang? Dia pergi dengan perlakuan yang kejam. Sakit.
Saya juga merindukan mama. Iri melihat
teman memiliki keluarga yang selalu menyemangati. Rindu yang menyesakan. Rindu suasana
kamar yang selalu ada beliau. Suara berisik dari dapur saat memasak. Lidah ini
sudah membatu menyebut kata mama yang tidak pernah terucap lagi. Rasa makanan
rumahan buatannya, saya benar-benar sempurna melupakan.
Sendirian, teman sibuk dengan
urusan masing-masing. Bahagia dengan belahan jiwa. Sementara saya terpuruk di
dalam rumah bersama kesedihan. Ya, saya tidak memiliki banyak teman. Susah bergaul.
Hari ini hati perih. Luka lama menganga.
Sendiri. Bukankah saya punya Tuhan? Tapi saya malah menjauh menjadi brengsek. Entah
kenapa saya begini.
Selain menangis apa lagi? Lelah. Saya ingin baring di atas
kasur, menatap wajah mama dan bercerita banyak hal. Apa yang akan dia katakan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar