Sabtu, 21 Mei 2016

Warung Bakso dan Kuli Bangunan

Surabaya, 20 Mei 2016

Saya suka sekali hari Jumat. Hari itu saya menemani sabahat saya, Lala, ke Gramedia Expo untuk meletakkan surat lamaran kerja. Ya, bulan maret 2016 dia lebih dulu lulus dibanding saya dan sampai hari ini disibukkan melamar kerja dimana-mana.

Namun, sebelumnya kami singgah untuk makan di warung bakso yang berada di Jl. Kaca Piring, Surabaya. Saya lupa nama warungnya. Ini kedua kalinya makan di sana. Pertama kali diajak oleh sepupu saya, Dini. Karena warung tersebut di sebelah tempat LES dia, SSC Surabaya. Dekat sekali dengan “Mie Kober” yang terkenal dengan Mie Iblisnya, tepatnya di seberang jalan.

Jauh-jauh dari kampus yang terletak di Jl. A. Yani ke Jl. Kaca Piring hanya untuk makan siang, pasti ada sesuatu yang special. Yup, karena harganya murah banget dan bikin kenyang. Maklumlah namanya juga mahasiswi yang masih belum memiliki kebebasan finansial dan warung bakso tersebut dekat dengan SSC yang mayoritas adalah pelajar, jadi wajar harganya murah banget. Pentol Rp 1.000 /biji dan yang lainnya dengan harga Rp 500 /biji, seperti gorengan, tahu, dan siomay. Untuk rasa tidak mengecewakan, yang saya sukai adalah gorengan panjang.

Di sini, jangan harap sang Ibu (tukang bakso) akan melayani pelanggannya, tetapi pelanggan melayani sendiri, bisa disebut prasmanan. Mungkin karena pembeli yang banyak. Begitu datang, saya mengambil mangkok dan mengambil sendiri pentol beserta teman-temannya. Hanya baksonya saja, untuk minuman sang Ibu yang membuat. Minumannya juga murah, es jeruk Rp 2.000 dan tidak abal-abal. Biasanya harga rata-rata es jeruk Rp 3.000, itu pun ada yang abal-abal tidak terasa jeruknya, cuma air gula.

Saya memilih duduk di depan gerobak, dengan pemandangan sang Ibu yang sibuk membuat minuman. Beberapa menit kemudian, ada seorang bapak yang sepertinya salah satu kuli bangunan di depan warung, ia menghampiri sang Ibu. “Buk, kulo bakso setunggal. Kulo bayar binjing mawon nggeh Buk (Buk, saya bakso satu. Saya bayar besok ya Buk)

Tanpa sengaja saya mendengar pembicaraan mereka. Sang Ibu langsung mengiyakan. Tetapi yang mengambil bakso bukan kuli bangunan itu sendiri, tetapi Ibu tersebut. “petang ewu mawon buk, koyo biasane (empat ribu saja buk, seperti biasanya)

Saya jadi teringat Ayah saya yang hanya seorang supir dan harus mengutang sana-sini untuk biaya kuliah dan keperluan sehari-hari. Saat itu juga saya melihat perjuangan Lala mencari kerja, betapa susahnya ditolak oleh banyak perusahaan.

Saya juga kembali teringat waktu harus menahan lapar karena tidak ada uang ataupun makanan di rumah. Saya juga ingat bagaimana alm. Ibu saya menjual satu persatu perhiasannya untuk membeli seragam sekolah dulu. Sedangkan saya sekarang banyak mengeluh mengerjakan skripsi. Rasanya tidak pantas melakukan hal itu.

Suatu keberuntungan bisa melihat peristiwa itu. Saya berharap ketika malas melanda, semangat menyusut bisa melihat peristiwa yang membangkitkan semangat dan menyadarkan bahwa di dunia ini harus berjuang.

Bulan Oktober 2016 ini saya harus wisuda. Saya harus lari, nekad, gasrak semuanya untuk bisa menyelesaikan skripsi.

Allah, dan Ayah… Trimakasih banyak, untuk semua kesempatan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar