Saya suka
sekali hari Jumat. Hari itu saya menemani sabahat saya, Lala, ke Gramedia Expo
untuk meletakkan surat lamaran kerja. Ya, bulan maret 2016 dia lebih dulu lulus
dibanding saya dan sampai hari ini disibukkan melamar kerja dimana-mana.
Namun,
sebelumnya kami singgah untuk makan di warung bakso yang berada di Jl. Kaca
Piring, Surabaya. Saya lupa nama warungnya. Ini kedua kalinya makan di sana. Pertama
kali diajak oleh sepupu saya, Dini. Karena warung tersebut di sebelah tempat
LES dia, SSC Surabaya. Dekat sekali dengan “Mie Kober” yang terkenal dengan Mie
Iblisnya, tepatnya di seberang jalan.
Jauh-jauh
dari kampus yang terletak di Jl. A. Yani ke Jl. Kaca Piring hanya untuk makan
siang, pasti ada sesuatu yang special. Yup, karena harganya murah banget dan
bikin kenyang. Maklumlah namanya juga mahasiswi yang masih belum memiliki
kebebasan finansial dan warung bakso tersebut dekat dengan SSC yang mayoritas
adalah pelajar, jadi wajar harganya murah banget. Pentol Rp 1.000 /biji dan
yang lainnya dengan harga Rp 500 /biji, seperti gorengan, tahu, dan siomay. Untuk
rasa tidak mengecewakan, yang saya sukai adalah gorengan panjang.
Di sini,
jangan harap sang Ibu (tukang bakso) akan melayani pelanggannya, tetapi
pelanggan melayani sendiri, bisa disebut prasmanan. Mungkin karena pembeli yang
banyak. Begitu datang, saya mengambil mangkok dan mengambil sendiri pentol beserta
teman-temannya. Hanya baksonya saja, untuk minuman sang Ibu yang membuat. Minumannya
juga murah, es jeruk Rp 2.000 dan tidak abal-abal. Biasanya harga rata-rata es
jeruk Rp 3.000, itu pun ada yang abal-abal tidak terasa jeruknya, cuma air
gula.
Saya memilih
duduk di depan gerobak, dengan pemandangan sang Ibu yang sibuk membuat minuman.
Beberapa menit kemudian, ada seorang bapak yang sepertinya salah satu kuli
bangunan di depan warung, ia menghampiri sang Ibu. “Buk, kulo bakso
setunggal. Kulo bayar binjing mawon nggeh Buk (Buk, saya bakso satu. Saya bayar
besok ya Buk)”
Tanpa sengaja
saya mendengar pembicaraan mereka. Sang Ibu langsung mengiyakan. Tetapi yang
mengambil bakso bukan kuli bangunan itu sendiri, tetapi Ibu tersebut. “petang
ewu mawon buk, koyo biasane (empat ribu saja buk, seperti biasanya)”
Saya jadi
teringat Ayah saya yang hanya seorang supir dan harus mengutang sana-sini untuk
biaya kuliah dan keperluan sehari-hari. Saat itu juga saya melihat perjuangan
Lala mencari kerja, betapa susahnya ditolak oleh banyak perusahaan.
Saya juga
kembali teringat waktu harus menahan lapar karena tidak ada uang ataupun
makanan di rumah. Saya juga ingat bagaimana alm. Ibu saya menjual satu persatu
perhiasannya untuk membeli seragam sekolah dulu. Sedangkan saya sekarang banyak
mengeluh mengerjakan skripsi. Rasanya tidak pantas melakukan hal itu.
Suatu keberuntungan
bisa melihat peristiwa itu. Saya berharap ketika malas melanda, semangat
menyusut bisa melihat peristiwa yang membangkitkan semangat dan menyadarkan
bahwa di dunia ini harus berjuang.
Bulan
Oktober 2016 ini saya harus wisuda. Saya harus lari, nekad, gasrak semuanya
untuk bisa menyelesaikan skripsi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar